LEMBAGA PERS MAHASISWA

LPM ALIF

STAI Al-Hamidiyah Bangkalan

Budaya Membaca yang Mulai Tergeser oleh Konten Instan

Di era digital saat ini, masyarakat hidup dengan arus informasi yg berkembang begitu cepat, sehingga perubahan media sosial membawa perubahan besar terhadap masyarakat, yg awalnya gemar sekali membaca kini kian menyurut dengan adanya media sosial saat ini, karena Informasi kini dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui video singkat, unggahan singkat, maupun konten hiburan yang terus bermunculan. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan yang perlahan mulai terasa: budaya membaca semakin tergeser oleh kebiasaan menikmati konten instan. apalagi generasi muda saat ini sangat lebih akrab dengan video yg berdurasi 1 menit atau beberapa menit itu dibandingkan membaca artikel panjang seperti koran atau buku. dan juga banyak sekali mahasiswa saat ini lebih memilih membaca dengan singkat dari pada memahami isi dengan utuh, terkadang juga mahasiswa saat ini mencari jawaban ataupun membuat artikel dan makalah bukan lagi mencari referensi di buku tetapi saat ini sudah ada yg namanya AI, itu sangat mempermudah mahasiswa mencari referensi tersebut, beda lagi dengan yg lalu, dahulu mencari informasi saja harus membaca koran kalau sekarang sudah ada tiktok, youtobe, facebook dll. Akibatnya, kemampuan memahami persoalan secara mendalam mulai menurun. Informasi diterima secara cepat, tetapi sering kali tanpa proses berpikir kritis. Konten instan memang memberikan hiburan dan kemudahan, tetapi tidak semuanya mampu membangun pengetahuan yang kuat.budaya membaca sebanarnya bukan sekedar membaca tulisan tetapi bagaimana masyarakat tersebut memahami secara berfikirnya, menambah wawasan bukan hanya dari media sosial saja, terkadang banyak orang yg terkecoh dengan hanya melihat dari media sosial, belum tentu informasi tersebut akurat. dan ini menjadi tantangan besar, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tidak sedikit yang lebih tertarik mencari jawaban cepat daripada memahami proses belajar secara utuh. Padahal pendidikan tidak hanya bertujuan memperoleh nilai, tetapi juga membentuk pola pikir yang kritis dan reflektif. Jika budaya membaca terus melemah, maka kualitas pemikiran generasi muda juga dapat ikut menurun.

Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Media digital dapat menjadi sarana literasi yang efektif apabila digunakan dengan bijak. Permasalahan utamanya terletak pada cara masyarakat memanfaatkan teknologi tersebut. Konten instan seharusnya menjadi pintu awal untuk mencari pengetahuan lebih dalam, bukan menjadi satu-satunya sumber pemahaman.Karena itu, menumbuhkan kembali budaya membaca menjadi tanggung jawab bersama. Sekolah, kampus, keluarga, maupun lingkungan sosial perlu menciptakan ruang yang mendorong minat baca. Generasi muda juga harus mulai menyadari bahwa tidak semua pengetahuan dapat dipahami hanya melalui potongan video singkat. Membaca tetap menjadi cara penting untuk memahami realitas secara lebih utuh dan menyuarakan kebenaran berdasarkan pemikiran yang matang.Pada akhirnya, di tengah derasnya arus konten instan, budaya membaca tidak boleh hilang. Sebab masyarakat yang gemar membaca akan lebih sulit dipengaruhi oleh informasi palsu dan lebih mampu berpikir secara kritis. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi tentang menjaga kesadaran agar manusia tidak kehilangan kemampuan berpikir di era digital yang serba cepat.


Penulis: KHALIMAH SA’IDAH ( Pamekasan Pemenang lomba juara 1 Opini Se-Madura yang diselenggarakan oleh LPM ALIF STAMIDIYA

Penanggung Jawab: Nur Azizah (PU LPM ALIF )

Tulisan Populer
Tulisan Terbaru
Tulisan Terbaca